Seringkali aku berfikir kalo aku tuh ga pernah bisa jadi teman yang baik untuk siapapun, online maupun offline. Mungkin itu salah satu alasan kenapa saat ini aku ga punya temen yang bener-bener deket, but that's fine because i choose that way.
Dan sekarang, judul overthinkingnya sama circle temen blogger.
FYI, sekarang circle yang tadinya seru di satu blog dan akhirnya saling berteman di blog masing-masing, kini pelan-pelan semuanya saling berteman di Instagram.
Seru sih, banget malah. Rasanya Instagramku lebih berwarna lagi suasana karena temen-temen blogger ini.
But there's this one moment ketika satu temen blogger yang jadi idola semua orang, share tentang hadiah-hadiah atau surat yang dikirimkan teman-teman bloggernya. It is so sweet, semuanya punya caranya sendiri untuk menyampaikan kekaguman dan 'cinta'nya pada satu blogger yang emang layak dicintai semuanya.
Except me.
Aku menganggap diriku sebagai salah satu bagian dari pertemanan itu tapi hanya aku yang ga pernah ngasih sedikit effort untuk setidaknya menulis surat dan kirim-kirim. Pasti ga mahal juga kan ya.
I know kalo kakak yang satu ini ga pernah minta semua itu. It's not about her, it's about me yang merasa jadi teman tapi cuma sepanjang lidah aja. Hanya di bibir dan tulisan aja.
In some way, i feel blessed karena memang selalu dianggap ada dan selalu masuk di circle-nya. But in some other way, i feel failed karena udah digituin tapi ga pernah balas kebaikannya, setidaknya nulis surat mah bisa meureun ya.
Hadeuuh...
Anyway, jangan dianggap serius ya tulisannya. Ini aku tulis buat curhat aja sama blog dan keyakinan karena ga ada yang baca juga. Maklum, lagi mode mellow on.
Balas tuh nggak selalu harus sama kok kayak yang orang lain lakukan, everyone punya cara masing-masing, dan saya rasa kakak yang satu itu juga nggak mempermasalahkan dan nggak berpikir jauh ke sana. Terlepas sering dikasih hadiah this and that, hadiah yang paling mudah dan pastinya baik untuk diberikan itu adalah doa, yang bisa tersampaikan lewat surat, lewat email, bahkan dalam hati saja pun bisa 😆
ReplyDeleteDuh, baru inget ini postingan belum dihapus lagi :p
Deleteiya kak... aku mengerti.
Kak Ady maaf nitip tisu, sy jd nangis karena ingat diri sendiri pas baca bagian ini: "aku ga punya temen yang bener-bener deket, but that's fine because i choose that way."
ReplyDeleteT.T saya banget.
Duh... mbak tiffani kenapa sama kayak aku? apa yang membuatmu memilih untuk ga punya temen yang bener-bener dekat?
DeleteAh mbak Eno ya. Eh beneran nggak, sih. Lol. Rasanya malah aneh kalau model mas Ady, atau mas Anton jadi kayak gitu. Kirim2 surat atau pos yg sweet-sweet.Laki-laki gitu loh.���� Beberapa cara nyaman bagi seseorang bukan untuk yang lain but it doesnt mean its a bad thing. Mungkin mas Ady punya banyak juga kebaikan2 kecil atau yg sweet untuk org lain. Bedanya mungkin tidak ditunjukkan saja di medsos karena malu atau rasanya ngapain sih itu ditunjukkan..betul, nggak? ��
ReplyDeleteSaya sih jujur aja bilang ke mbak Eno saya nggak demen surat2an spy ramah lingkungan �� ( org yg menikmati kepraktisan digital)