Jumat, 09 Maret 2018

Nostalgia di Rumah

Hingga saat ini, memiliki rumah sendiri masih sekedar impian. Itu adalah top list dari bucketlist yang aku punya. Hingga saatnya nanti memiliki rumah sendiri, aku selalu dan sepertinya selamanya akan menganggap bahwa rumah orangtua saya adalah rumahku yang terindah.
Begitu banyak kenangan, suka duka, walaupun lebih banyak sukanya dan dukanya mungkin hanya sebatas pertengkaran dengan kakak atau sama mamah yang nyuruh beresin tempat tidur.

Hmm... ga nyangka ya ternyata aku bisa kangen diomelin dan dimarahin mamah, padahal siapapun pasti ga suka dong ya dimarahin dan dicerewetin ibu sendiri. Time flies, seiring jarak dan intensitas pertemuan, hal tersebut menjadi langka terjadi dan malah dirindukan.
Juga, aku kangen dengan rumah itu. Rumah tempat aku tumbuh dan berkembang juga berlindung. Tentunya banyak perubahan yang terjadi, perubahan yang menjadikan rumah itu menjadi lebih baik dan lebih kokoh, tapi apapun perubahannya, rasa nostalgia itu selalu ada, dan pada setiap perubahan, pasti ada sesuatu yang bertahan, entah kenapa.
Yang ga banyak mengalami perubahan dari rumah itu adalah beberapa spot kecil di dapur. Apalagi jika sorenya cerah, berkas cahanya kemerahan masuk melewati jendela dan pintu dapur jika dibiarkan terbuka. Banyak debu yang menumpuk tebal pada sela-sela ram kawat jendela dapur itu. Somehow it reminds me a lot of my childhood.

Ingat film kartun Doraemon kan?nah scene sore-sore yang mataharinya jingga, lengkap dengan suara serangga (nama serangganya adalah cicadas atau tonggeret dalam bahasa sunda). Nah persis, vibe seperti itu yang sering aku alami di masa kecil.

Tapi apapun itu, ada dua manusia hebat yang selalu aku lupa bahwa mereka pun masih bertumbuh, bertambah tua. Dua manusia itulah yang menjadi jiwa dari rumah itu, penghuni pertama dan akan menjadi tempat terakhir. Dua manusia inilah yang aku sebut mamah dan bapa. Dua figur utama yang menjadikanku seperti sekarang. Apapun yang baik dariku, itu karena didikan dan ajaran mereka, dan apapun yang jelek dari saya, itu hanya kesalahan-kesalahan yang aku buat sendiri seiring perjalananku menjadi seorang dewasa.

Rumah dengan mamah dan bapa yang menjadi penghuninya adalah yang akan selalu aku sebut sebagai rumah terindah. Love you guys.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feel free to write and comment