Jumat, 06 Oktober 2017

Potret Analog: Awal yang Asik

Awal perkenalan saya dengan fotografi adalah dengan kamera digital SLR punya kakak, Nikon D3100, tapi hanya mencicip rasa saja karena walau bagaimanapun, saya selalu tidak bisa suka dengan apapun yang bukan punyaku.
Ga lama kemudian dari situ, karena uang pas-pasan tapi ngebet pengen bisa foto-foto dengan kamera full manual baik itu dari settingan juga fokus lensanya, akhirnya kenal dengan kamera SLR analog, harga murah, bisa kebeli. And my first camera is Pentax K1000 + 50mm f2 yang kemudian tuker tambah 200ribu untuk dapet 50mm f1.4

 Itu adalah masa yang paling menyenangkan dalam masa hobi saya berfotografi, karena hasilnya entah kenapa ga pernah ga suka, meskipun hasilnya blur lah, missed focusnya lah, ya kalo hasil digital pasti langsung buang.

Tapi tidak dengan hasil film, lebaynya nih ya..ada rasa yang ikut terekam dalam setiap jepretannya, ada kedalaman, karakter warna, pokoknya saya suka apapun hasil dari film. Lalu setelah beberapa lama setelah menghabiskan 13 roll film yang tentunya habisnya bisa sampai setahunan lebih, kemudian ada jalan dan rejeki untuk membeli Digital SLR, tapi mau ga mau untuk kekurangannya harus menjual si Pentax ini.
Keputusan yang sangat membingungkan, for your information, maen analog film itu biaya produksinya mahal, juga lambat dalam artian elu harus menghabiskan 36 jepretan untuk kemudian di cuci lalu scan. Nah, proses lambat ini yang membuat saya lebih kesemsem dengan DSLR, akhirnya saya jual Pentax saya (yang mana sangat saya sesali hari ini) dan beli lah Canon 500D, itupun yang bekas.

Setelah saya memiliki DSLR, jadi lebih sering lagi motret karena ya begitulah digital, instan, cepat, dan murah. Kita jadi lebih cepat belajar dari kesalahan dan karenanya, proses belajar jadi jauh lebih cepat. Tapi, hasil digital ini mau ga mau harus melalui proses post processing alias editing, karena kalau mengandalkan hasil langsung, sangat tidak menarik dan datar. Tapi disitu jugalah keasyikan maen digital, proses post processingnya menyenangkan karena kita bisa bermain dengan imajinasi dan langsung kelihatan hasilnya.
Biasanya saya suka pake preset filmlook karena memang selera saya adalah filmlook, tapi ternyata itu terbentuk karena saya mengawali hobi fotografi dengan kamera analog yang mana hasil film ini ternyata ga pernah bisa terkejar oleh Digital SLR. Terutama dari segi kedalaman dan karakter warna.

 Dan sekarang saya sadari bahwa mungkin inilah alasan saya tidak pernah benar-benar puas dengan foto-foto yang saya tangkap dengan DSLR saya. Saya selalu edit banyak-banyak hanya agar bisa mendekati hasil dari kamera film, tapi ternyata susah. Untuk mendekati mungkin bisa saja, tapi selalu saja, hasil digital itu datar and i can't explain it why.

Sudah beberapa tahun ini hanya menggunakan DSLR dan menjauh dari analog, sepanjang itulah saya tidak pernah benar-benar puas dengan hasil DSLR, ya walaupun ga jarang mendapat hasil yang menyenangkan hati dalam arti fotonya bagus di lingkup digital.
Saya selalu berharap bisa maen fotografi film lagi.
Dan akhirnya minggu ini saya mendapat hibah kamera Ricoh KR-5 Super dari atasan saya di kantor karena dirinya udah ga butuh kamera itu lagi. Sebetulnya, jauh sebelum dapet Ricoh ini, saya udah ada Analog camera yaitu Nikon Fm2 tapi sayang lensanya udah jamuran parah, ga bisa dipake lagi deh kayaknya, jadi so far sih cuma disimpen di dalem lemari aja sambil sesekali di lap dan dibersihin biar terjaga kondisinya.

 Yes, i am happy now, punya Ricoh KR-5 dengan kondisi bagus, intinya masih layak dipake foto-foto lah. tadi sore sudah beli film-nya yaitu Kodak ColorPlus 200 dan sudah terpasang. Baru sejepret nih, biasa buat testing, selfie dulu bareng kameranya via cermin.
And now, i just can't wait to have a good time with film photography and analog camera.

Wait and See.
Bye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feel free to write and comment