Minggu, 24 September 2017

Langit Jingga di Bandung

Bulan Agustus adalah bulan yang paling menarik untuk dinikmati, karena untuk negara bermusim empat, Agustus adalah musim panas. Buat mereka, musim panas adalah musim untuk menikmati hangatnya sinar mentari dan untuk fotografer adalah musim yang paling menyenangkan untuk menikmati indahnya cahaya sunrise ataupun sunset.


Di khatulistiwa yang hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan (yang mana untuk beberapa tahun terakhir ini ga jelas waktu terjadinya), Agustus relatif aman dari musim penghujan, artinya mungkin sama seperti musim panas di daerah subtropis, we have lots of sunrise and a very less of rain and grey clouds.
Itu artinya, langit malam dengan gemerlap bintang tanpa terhalang awan akan sering terjadi. Terbitnya matahari sejak keluar dari garis horison akan bersinar dengan leluasa sampai nanti habis tenggelam sampai dibawah garis horison.
Golden lights diantara terbit matahari dan sesaat sebelum tenggelamnya akan sering terjadi.
Bulan Agustus adalah favorit saya, bisa saja sebulan penuh memotret sunrise dan sunset.
Yes, i am that in love with golden lights.




Dan pada hari itu, saya lupa tepatnya, tapi masih di bulan Agustus, sepulang kerja sekitar pukul setengah lima sore, langit begitu bersih, biru khas langit tanpa awan. Warna cahaya mentari sudah mulai menguning tanda mulai memasuki golden moments.
Untuk para fotografer, saat seperti itulah saat yang paling keren untuk memotret, golden lights ini sudah tidak sekeras cahaya tengah hari.
Selain cahayanya mulai soft, warna cahaya yang menguning juga sangat menyenangkan jika bertemu dengan permukaan kulit manusia. It never failed me, ever. Oleh karena itu, saya selalu gatal ingin memotret jika tahu sore-sore tapi langit tetap bersih. Karena itu tandanya langit jingga di penghujung hari akan terjadi, and i must capture that moment.
Oleh karena itu, ditengah perjalanan yang tadinya mau langsung pulang, karena gatalnya saya akan cahaya matahari seperti itu dan kebetulan saya gak pernah enggak untuk selalu membawa kamera, bahkan ke tempat kerja.
Maka, berbeloklah saya menuju satu tempat yang gratis, sepi, dan tinggi. Pasar Baru yang pertama terlintas.

Kenapa harus tempat tinggi?--Simply karena ingin menikmati sunset sampai tenggelamnya oleh garis horison atau masuk ke balik pegunungan. Juga ingin memotret cityscape berbalut cahaya jingga matahari sore.
Sore itu adalah sore yang paling saya nikmati setiap detiknya sepanjang saya tinggal di Bandung. Tapi tentu, sebagai penikmati fotografi, cara saya menikmati momen itu adalah melalui bidikan kamera.
Mungkin bagi beberapa orang akan berpendapat bahwa fotografer itu tidak bisa menikmati momen-momen indah yang ada karena akan terlalu sibuk dengan camera settings. Mungkin benar, tapi buat saya justru fotografi itu adalah mengenai bagaimana kita menikmati setiap detik momen tersebut karena kita harus peka pada setiap detik momen yang berlangsung tersebut dan kemudian kita mempunyai kemampuan untuk mengabadikan 'highlights' momen tersebut pada kamera yang kita punya.
Dan saya sangat menikmati sunset pada hari itu, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk setiap bidikan yang saya ambil.
Terimakasih ya Allah atas kesempatan untuk menikmati momen tersebut dengan segala keindahannya.
Selain menikmati jingga langit dan matahari, pada sore itupun saya bertemu dengan hal lain seperti kawanan burung dan pesawat terbang. Hal biasa yang bisa kita temui setiap hari tapi menjadi sesuatu yang spesial pada waktu yang tepat.

Oke deh, sudah dulu posting pertama setelah tiga tahun tidak pernah ngepost di blog ini. Saya ga akan ngomong bahwa saya akan lebih sering ngepost disini, tapi whenever i want to share, i will blog it up here.

bye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feel free to write and comment